Produksi 2,4 Juta Ton Petrokimia Lotte Dorong Tumbuhnya Industri Pendukung Pertanian Domestik

MEMEKKAH, HUKUMTIRANI.COM – Peresmian pabrik petrokimia milik Lotte Chemical Indonesia (LCI) di Cilegon menandai babak baru bagi industrialisasi nasional. Dengan kapasitas produksi lebih dari 2,4 juta ton per tahun, fasilitas ini diproyeksikan menjadi katalis penting bagi tumbuhnya industri pendukung sektor pertanian dalam negeri.

Pabrik senilai 4 miliar dolar AS tersebut memproduksi berbagai bahan dasar industri seperti ethylene, propylene, polypropylene, butadiene, serta benzene-toluene-xylene (BTX). Produk-produk tersebut selama ini banyak diimpor dan menjadi komponen penting bagi industri plastik pertanian, pupuk cair, hingga alat mekanisasi pertanian, Kamis (6/11/2025).

Menurut Muhammad Sirod, Wakil Sekjen Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) sekaligus Dewan Pakar ASPEBINDO, beroperasinya pabrik petrokimia Lotte di Cilegon akan memperkuat integrasi antara industri hulu energi dan sektor riil pertanian nasional.

“Pasokan bahan baku lokal seperti ethylene dan propylene akan mendorong lahirnya industri plastik teknis pertanian dalam negeri, mulai dari sistem irigasi, mulsa, hingga wadah pupuk. Ini momentum penting bagi kemandirian sektor pertanian,” ujar Sirod.

Dengan kapasitas 1 juta ton ethylene dan 520 ribu ton propylene per tahun, fasilitas tersebut mampu menopang pengembangan industri pengolahan polyethylene dan polypropylene, dua bahan utama untuk berbagai kebutuhan pertanian dan hortikultura.

Ketersediaan bahan baku lokal diperkirakan dapat menekan biaya input pertanian hingga 20 persen, khususnya pada komponen seperti mulsa, tangki air, dan kemasan pupuk. Selain itu, butadiene dan BTX yang dihasilkan membuka peluang bagi pengembangan industri karet sintetis dan resin pelapis yang digunakan dalam pembuatan selang irigasi, ban traktor, serta alat pelindung pertanian.

“Sebelumnya, industri dalam negeri sangat bergantung pada impor bahan setengah jadi dengan biaya tinggi. Kini, rantai pasok bisa lebih pendek dan efisien. Ini memperkuat ketahanan industri nasional dari fluktuasi harga global,” tambah Sirod.

Secara ekonomi, proyek petrokimia ini memberikan nilai tambah hingga Rp15 triliun per tahun serta menciptakan ribuan lapangan kerja baru di sektor manufaktur plastik, agrokimia, dan peralatan pertanian. Di sisi lain, Indonesia berpotensi mengurangi ketergantungan impor bahan plastik pertanian yang saat ini mencapai 60 persen dan pelarut kimia untuk pestisida serta pupuk cair sebesar 80 persen.

Lebih jauh, integrasi rantai nilai petrokimia–pertanian ini berpotensi membentuk klaster industri baru di wilayah Banten dan Jawa Barat. Kawasan tersebut dinilai ideal untuk pengembangan pabrik pengolahan plastik, kemasan pertanian, dan formulasi agrokimia berbasis bahan lokal.

Sirod menegaskan bahwa keberadaan pabrik petrokimia Lotte merupakan bentuk nyata dari arah kebijakan hilirisasi pemerintah yang menekankan transformasi dari eksportir bahan mentah menjadi produsen barang jadi bernilai tambah tinggi.

“Sinergi antara industri energi, kimia, dan pertanian akan memperkuat fondasi ekonomi berbasis nilai tambah. Ini bukan hanya soal produksi bahan kimia, tapi tentang kedaulatan pangan dan kemandirian industri nasional,” tutupnya.

(Emed Tarmedi)

Bagikan Artikel

Artikel Lainnya

NASIONAL

Berita Pilihan

Kunjungi Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Pemerintahan

Berita Populer