JAKARTA, TANIFAKTUAL.COM – Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan komitmennya untuk memperkuat tata kelola dan kualitas gizi dalam Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) sebagai upaya untuk menghilangkan stunting secara menyeluruh di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, Rabu (12/11/2025).
Menurut Dandan, BGN kini menerapkan sejumlah regulasi baru yang lebih ketat, termasuk pembatasan biaya per porsi makanan untuk anak sekolah. “Awalnya kita melayani sekitar Rp3.000 sampai Rp4.000. Dengan aturan baru, satu SPPG maksimal Rp2.000 untuk anak sekolah,” ujarnya. Pembatasan ini dilakukan untuk memastikan efisiensi anggaran sekaligus menjaga standar mutu makanan.
Untuk memastikan keamanan pangan, SPPG kini diwajibkan menggunakan alat rapid test yang mampu mendeteksi empat unsur kimia berbahaya dalam makanan, yaitu nitrit, sianida, formalin, dan arsen. “Ini untuk memastikan makanan aman dikonsumsi,” tegas Dadan.
Selain memperketat keamanan pangan, BGN juga mengatur bahwa setiap SPPG wajib memprioritaskan kelompok B3 sebagai penerima layanan utama, mengingat kelompok ini memiliki risiko lebih tinggi terhadap stunting. “Tujuan kita bukan hanya menurunkan stunting, tapi benar-benar menghilangkannya,” tambahnya.
Saat ini, BGN telah membentuk SPPG di seluruh Indonesia, dengan target mencapai 25.400 SPPG di wilayah aglomerasi dan sekitar 8.000 SPPG di daerah kecil dan terpencil. Untuk meningkatkan transparansi dan pengawasan publik, setiap SPPG diwajibkan memiliki akun media sosial dan mengunggah menu yang dimasak setiap hari. “Ini bentuk kontrol publik. BGN juga memantau menu-menu tersebut,” jelasnya.
Salah satu hal yang menjadi perhatian utama adalah integrasi bahan pangan lokal ke dalam menu MBG. SPPG yang berasal dari tenaga kerja lokal diarahkan untuk meracik menu berdasarkan potensi sumber daya lokal, preferensi masyarakat setempat, dan kandungan gizi seimbang.
Dalam upaya memperluas program MBG, BGN juga mendorong peningkatan produksi pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan bahan baku yang semakin meningkat. “Permintaan ayam dan telur naik. Kita sudah koordinasi dengan kementerian terkait untuk mendorong produksi lokal agar petani dan peternak terdorong meningkatkan produksi,” ujar Dadan.
BGN juga memberi ruang bagi anak-anak dalam variasi menu agar mereka tidak bosan. “Kadang ada yang minta menu tertentu, itu kita akomodasi sesekali, tetapi tetap dengan prinsip makanan segar dan kandungan gizi yang terukur,” katanya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa makanan harus tetap fresh food dan tidak boleh didominasi menu berat yang tidak sesuai kebutuhan anak.
Dadan menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa kualitas gizi yang diberikan kepada anak-anak hari ini akan menentukan kualitas generasi Indonesia pada 20 tahun mendatang. “Generasi mendatang sangat bergantung pada gizi anak-anak hari ini. Maka harus kita siapkan dari sekarang.”
Editor : Emed Tarmedi

