KARAWANG, TANIFAKTUAL.COM – Intensitas hujan tinggi yang mengguyur Kabupaten Karawang dalam beberapa pekan terakhir kembali menimbulkan bencana banjir di wilayah Kecamatan Cilamaya Wetan. Pada Sabtu, 31 Januari 2026, hujan deras yang turun hampir tanpa jeda menyebabkan tanggul Kali Bawah jebol, sehingga air sungai meluap dan merendam permukiman warga di Desa Muara dan Desa Muara Baru.
Cuaca ekstrem yang melanda wilayah pesisir utara Karawang membuat debit air sungai meningkat drastis. Tekanan air yang besar tidak mampu lagi ditahan oleh tanggul, hingga akhirnya terjadi kerusakan serius. Air sungai mengalir bebas ke kawasan permukiman, merendam rumah-rumah warga, fasilitas umum, serta melumpuhkan aktivitas masyarakat dalam waktu singkat.
Kondisi tersebut menimbulkan kepanikan di tengah warga. Sejumlah keluarga terpaksa menghentikan aktivitas harian mereka, sementara sebagian lainnya mulai mengamankan barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi untuk menghindari kerusakan lebih lanjut.
Menanggapi situasi darurat tersebut, Bupati Karawang H. Aep Syaepuloh, SE bergerak cepat dengan turun langsung ke lokasi kejadian. Tanpa menunggu lama, Bupati Karawang meninjau secara langsung titik tanggul yang jebol guna memastikan tingkat kerusakan sekaligus menentukan langkah penanganan yang paling tepat.
Dalam peninjauan lapangan tersebut, Bupati Aep didampingi Dandim 0604 Karawang, Kapolres Karawang, Camat Cilamaya Wetan, BPBD Karawang, serta unsur perangkat daerah dan instansi terkait lainnya. Rombongan menyusuri area tanggul yang rusak untuk melihat secara langsung dampak luapan air terhadap permukiman warga.
Bupati Aep menjelaskan bahwa berdasarkan hasil peninjauan awal, kerusakan tanggul tergolong cukup parah dan membutuhkan penanganan cepat serta terkoordinasi.
“Awalnya lebar tanggul di bagian bawah sekitar lima meter. Sekarang melebar menjadi kurang lebih 15 sampai 20 meter. Ini menunjukkan tekanan air sangat besar dan kerusakan yang terjadi tidak ringan. Penanganannya harus cepat dan serius,” ujar Bupati Aep di lokasi.
Ia menegaskan, jika tidak segera ditangani, kerusakan tanggul dikhawatirkan akan semakin meluas dan berpotensi memperparah dampak banjir terhadap permukiman warga di sekitarnya.
Sebagai langkah awal, Pemerintah Kabupaten Karawang langsung melakukan koordinasi intensif dengan Perum Jasa Tirta (PJT) II dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Koordinasi tersebut dilakukan untuk mempercepat proses perbaikan tanggul serta menentukan skema penanganan teknis yang paling efektif guna mencegah kejadian serupa terulang.
Pemkab Karawang juga memastikan akan membuka dan mempermudah seluruh akses yang dibutuhkan dalam proses perbaikan, mulai dari mobilisasi alat berat hingga masuknya material penunjang ke lokasi tanggul yang jebol.
“Kami tidak ingin ada hambatan di lapangan. Semua akses kami buka agar perbaikan bisa segera dilakukan. Mudah-mudahan PJT II dan BBWS bisa bergerak cepat sehingga situasi segera terkendali,” tambah Bupati Aep.
Tidak hanya fokus pada perbaikan infrastruktur, penanganan warga terdampak menjadi perhatian utama Pemerintah Kabupaten Karawang. Melalui BPBD dan perangkat daerah terkait, Pemkab menyiapkan langkah tanggap darurat, termasuk rencana pendirian dapur umum di kantor Kecamatan Cilamaya Wetan.
Dapur umum tersebut disiapkan untuk memastikan kebutuhan dasar warga, khususnya logistik dan makanan, tetap terpenuhi selama masa tanggap darurat. Selain itu, pemerintah daerah juga terus melakukan pendataan terhadap warga terdampak untuk memastikan bantuan dapat disalurkan secara tepat sasaran.
Bupati Aep menegaskan bahwa bencana banjir di Cilamaya Wetan menjadi pengingat penting bagi seluruh jajaran pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak cuaca ekstrem yang kian sering terjadi.
“Dengan kondisi cuaca seperti sekarang, respons pemerintah tidak boleh biasa-biasa saja. Respons harus lebih besar, lebih cepat, dan lebih terkoordinasi. Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Karawang mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah bantaran sungai dan daerah rawan banjir, untuk meningkatkan kewaspadaan, mengikuti arahan petugas di lapangan, serta segera melaporkan kondisi darurat agar dapat ditangani secepat mungkin.
(Emed Tarmedi)

