BOGOR, TANIFAKTUAL.COM – Musyawarah Nasional (Munas) VII Dewan Pengurus Pusat Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor (DPP HA IPB) menjadi momentum penting konsolidasi alumni IPB dari seluruh Indonesia. Munas yang digelar dalam rangkaian Pesta Rakyat Alumni IPB Pulang Kampus (PRA-IPK) ini tidak hanya menjadi forum evaluasi organisasi, tetapi juga penentu arah kepemimpinan dan peran strategis alumni IPB untuk periode 2025–2029, Kamis (28/12/2025).
Menjelang pelaksanaan Munas, dinamika politik organisasi kian mengerucut. Berdasarkan penelusuran jejak digital, komunikasi antarorganisasi alumni, serta perkembangan konsolidasi pra-Munas, kontestasi kepemimpinan DPP HA IPB saat ini mengarah pada dua pasangan calon Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal, yakni Fauzi Amro–Anggawira (FAW) dan Ivan Kuntara–Agus Teguh (IKAT).
Hingga menjelang hari pelaksanaan Munas, pasangan Fauzi Amro–Anggawira tercatat mengantongi dukungan mayoritas dari pemilik suara sah dalam struktur organisasi HA IPB. Berdasarkan data yang beredar di kalangan alumni dan pengurus, sedikitnya 19 Dewan Pengurus Daerah (DPD) secara terbuka telah menyatakan dukungan kepada pasangan FAW.
Selain itu, dukungan juga datang dari 10 Dewan Pengurus Komisariat (DPK) serta tiga badan otonom alumni IPB. Dukungan tersebut tersebar dari berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga kawasan timur Indonesia, serta berasal dari lintas angkatan alumni.
Menguatnya dukungan ini menunjukkan soliditas jaringan struktural pasangan FAW yang dinilai memiliki pengalaman organisasi, rekam jejak kepemimpinan, serta kemampuan konsolidasi yang kuat di tingkat daerah maupun nasional.
Di sisi lain, pasangan Ivan Kuntara–Agus Teguh terlihat aktif melakukan sosialisasi visi, gagasan, dan narasi perubahan melalui media sosial serta forum-forum informal alumni. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan platform dan pandangan mereka terhadap masa depan HA IPB.
Namun demikian, hingga saat ini belum ditemukan publikasi terbuka yang secara resmi dan terverifikasi menunjukkan dukungan struktural organisasi baik dari DPD, DPC, maupun DPK yang dapat diukur secara kuantitatif. Kondisi ini menempatkan pasangan IKAT pada posisi yang relatif lebih bergantung pada pendekatan personal dan jejaring nonstruktural.
Dalam tata kelola Munas HA IPB, hak suara melekat pada organisasi, bukan pada individu alumni secara langsung. Oleh karena itu, dukungan resmi dari DPD, DPK, serta badan otonom memiliki bobot yang sangat menentukan dalam proses pemilihan Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal.
Dengan komposisi tersebut, hasil Munas VII HA IPB diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh kekuatan konsolidasi daerah dan kemampuan mengamankan dukungan struktural. Peta dukungan yang berkembang hingga saat ini menunjukkan keunggulan signifikan berada di kubu Fauzi Amro–Anggawira.
Lebih dari sekadar agenda pemilihan, Munas VII HA IPB dipandang sebagai titik krusial dalam menentukan arah peran alumni IPB ke depan. Di tengah tantangan global seperti krisis pangan, perubahan iklim, dan kebutuhan pembangunan berkelanjutan, alumni IPB diharapkan dapat mengambil peran strategis dalam sektor pangan, pertanian, kehutanan, kelautan, dan agromaritim.
Kepemimpinan DPP HA IPB periode 2025–2029 nantinya akan dihadapkan pada tuntutan untuk memperkuat sinergi alumni dengan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, sekaligus memastikan kontribusi nyata alumni IPB dalam pembangunan nasional.
Dengan dinamika yang terus bergerak hingga hari pelaksanaan Munas, seluruh mata alumni IPB kini tertuju pada forum tertinggi organisasi tersebut, yang akan menentukan arah kepemimpinan dan masa depan HA IPB lima tahun ke depan.
(Emed Tarmedi)

